Nama : Aldi Antono Purwanto
Kelas : 3EA25
NPM : 10212571
Kelas : 3EA25
NPM : 10212571
A.PEMBAHASAN
Pengertian Sosioteknologi Menurut Filino
Harahap (Mangunwijaya, 1983) teknologi merupakan penerapan secara sistematis
dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah untuk keperluan-keperluan praktis.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut terakumulasi dalam kemampuan teknik dan
intelektual yang diaplikasikan secara praktis dalam menciptakan produk (barang
dan jasa) untuk keperluan umat manusia.Secara umum, definisi sosioteknologi
adalah sebuah epistemologi pengembangan sains dan teknologi dengan sudut pandang
aspek kemasyarakatan dan kemanusiaan. Studi ini memiliki fungsi dan peran untuk
mentransformasikan masyarakat menjadi masyarakat pengetahuan yang kritis,
kreatif, dan inovatif (Pikiran Rakyat, 29 Agustus 2001).Sosioteknologi sendiri
mencoba menelaah lebih jauh tentang keterkaitan ataupun relasi antara manusia
dengan teknologi. Penelaahan ini berkaitan dengan implikasi yang ditimbulkan
teknologi terhadap segi-segi kehidupan dan penghidupan masyarakat bagaimana
seharusnya mengelola dampak dan peran teknologi tersebut dalam meningkatkan derajat
kemasyarakatan di satu sisi, serta bagaimana seharusnya sikap danperan
masyarakat dalam menerima fungsi teknologi itu di sisi lain (Sinaga,2001).
Beberapa prinsip dalam hal
hubungan antara manusia dengan teknologi antara lain :
a.Watak teknologi
Teknologi bukanlah
“benda mati”, ia “hidup”. Ia memiliki mekanisme dan dinamika kerjanya
sendiri.Mekanisme itu dapat mengubah manusia penggunanya sehingga manusianya
sehingga manusianya ikut menjadi alat.Manusia yang hakekatnya adalah makhluk
yang mengekspresikan keunikan dirinya lewat pekerjaannya (homo faber), akhirnya
bisa kehilangan kemanusiaannya dan menjadi alat belaka atau salah satu komponen
saja dari sistem pekerjaan atau produksinya. Dan karena merupakan suatu
kesatuan sistem, teknologi bukan sekedar alat tak berjiwa melainkan ia mampu
juga menciptakan dunianya tersendiri denganseperangkat sistem nilainya (Sutama,www.bpkpenabur.or.id/index.htm).Selain itu teknologi yang umumnya diyakini sebagai
kebutuhan pokok untuk “maju” dan membebaskan manusia dari bencana-bencana alam
pada akhirnya tidak hanya membebaskan, ia bahkan memperbudak. Dan kebebasan
yang diberikannya pun bukanlah kebebasan dari kebuasan alam,tetapi kebebasan
dari semua nilai-nilai transendental (Sardar,Sains Teknologi dan Pembangunan di
Dunia Islam).Perangai teknologi tersebut (dari kodratnya) padaakhirnya akan
menuju ke arah sistem kemasyarakatan dan kontrol kehidupan yang semakin otoriter,
sentralistis dan tak kenal ampun dalam memaksakan dalil-dalil
konsolidasi.Bahkan pengaruh teknologi pada suatu saat akan mengarah kepada
penyeragaman budaya yang universal, yang mana keseluruhannya itu masuk ke dalam
wilayah yang “terbentuk”oleh teknologi (Ladriere, 1977).
b.Teknologi dan manusia
Berbicara
mengenai manusia yang akan menjadi pengguna teknologi tidak kalah penting
dibandingkan dengan membicarakan teknologi itu sendiri. Hal ini tidak dapat dipisahkan.
Maka penting juga kiranya untuk mengetahui pola-pola interaksi yang terjadi
antara manusia dengan teknologi.Menurut Josef Banka (Mangunwijaya, 1983)
manusia yang berinteraksi dengan mesin (teknologi), jika ia
tidak berhati-hati, ia akan sangat kuat dipengaruhi oleh watak dari teknologi.
Ia dapat terkena bahaya samping dari teknologi dimana manusia tersebut akan
mengalami konflik manusiawi yang sangat khas. Di satu sisi ia sebagai manusia
membutuhkan komunikasi, simpati spontan, keterbukaan tanpa curiga terhadap manusia lain sedangkan di sisi
lain terhadap reaksi-reaksi spontan dalam arti teknik otomatisasi
pengemudian.Banyak faktor yang mempengaruhi perkembanganteknologi. Pada
tingkatan yang mendasar, faktor-faktor tersebut ditopang oleh sesuatu yang
tidak disadari yang dapat diasumsikan sebagai kumpulan konsep ataupun paket kepercayaan
dan nilai yang terangkum bersama kedalam suatu“pandangan dunia” ataupun
ideologi. Jika diibaratkan dengan ikatan rantai yang tertambat, dan pengetahuan
tertambat pada seribu rantai hak milik orang-perorangan maka teknologi
tidak hanya sekedar itu, namun ia bahkan lebih dalam dari itu. Ia terdapat
pada akar dan watak kebudayaan. Teknologi terikat kedalam mental seluruh
totalitas kebudayaan (Mangunwijaya,Teknologi dan Dampak Kebudayaannya).
c.Perpindahan teknologi (alih teknologi)
Perpindahan
teknologi umum dilakukan. Namun dengan mengingat karakter teknologi dan juga
karakter budaya yang diwakilinya maka teknologi tidak bisa dengan gampang begitu
saja dipindahkan. Jika teknologi diibaratkan sebagai sinar, maka sinar
kebudayaan yang terlepas (ditransfer) bagaikan elektron yang terlepas ataupun
penyakit menular yang tersesat. Ia dapat membawa maut apabila dipisahkan dari susunan
tempat sebelumnya ia berfungsi, lalu lepas berdiri sendiri, keluar mengembara
di dalam lingkungan lain.Bila teknologi dipindahkan begitu saja, maka hal itu merupakan
hal yang kurang tepat. Namun hal ini sering dilakukan terutama terhadap
teknologi yang berasal dari Barat.Dengan melakukan ini dapat diartikan sebagai
mengeluarkan teknologi Barat dari lingkungan lokalnya dan konteks sejarahnya.
B.Perkembangan teknologi terhadap struktur
masyarakat
Persepsi masyarakat
terhadap IPTEK
IPTEK memainkan peran penting sebagai sebuah
agen pembaharu di masyarakat. Sebagai bangsa yang bergerak ke arah ekonomi
berbasis pengetahuan, dibandingkan ekonomi berbasis sumber daya alam sesuai
dengan paradigma tekno-ekonomi, IPTEK menjadi landasan keberhasilan pembangunan
ekonomi yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang
kompetitif.Kekuatan bangsa diukur dari kemampuan IPTEK sebagai faktor primer ekonomi
menggantikan modal, lahan, dan energi untuk peningkatan daya saing. UU No. 18
Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan
IPTEK mengamanatkan tanggung jawab penelitian bukan lagi monopoli pemerintah,
tetapi juga menuntut peran serta masyarakat.Dengan demikian, masyarakat pada akhirnya
dituntut mempunyai wawasan memadai untuk memahami IPTEK.IPTEK akan berkembang
secara cepat dan diskusi mengenai isu-isu yang timbul dari perkembangan
tersebut sangat penting.Beberapa negara di belahan Benua Eropa telah mengalami
berbagai tantangan dalam menangani isu-isu kontroversial, contohnya: rekayasa genetika.
Negara-negara tersebut memperoleh pelajaran berharga dalam usahanya untuk
memperkenalkan dan melibatkan masyarakat umum terhadap IPTEK. Masyarakat dengan
tingkat pendidikan lebih tinggi akan berargumen bahwa IPTEK sangat esensial
untuk masyarakat yang berpendidikan lebih rendah.Dalam masyarakat yang
dinamis, sikap dan pandangan lebih penting daripada proses penerimaan suatu
informasi bernuansa IPTEK.Individu di dalam suatu komunitas masyarakat akan
bersikap atau bereaksi terhadap suatu situasi dan kondisi sosial tergantung
segi kualitas materi informasi IPTEK, sehingga strategi komunikasi IPTEK mempunyai
ruang lingkup lebih luas dan mencakup aspek interaksi antara masyarakat dengan
IPTEK. Studi mengenai pendekatan dan indikator pemahaman masyarakat tentang
IPTEK umumnya terdiri dari tiga unsur pokok yang saling berkaitan antara satu
sama lain:ketertarikan, pengetahuan, dan perilaku.Indikator unsur ketertarikan
bertujuan untuk mengukur hubungan masyarakat dengan perkembangan IPTEK.
Indikatorpengetahuan bertujuan untuk mengukur tingkatan pemahaman masyarakat terhadap
perkembangan IPTEK. Indikator ini berkaitan dengan hubungan antara IPTEK dan
media massa yang juga mengukur derajat keberhasilan komunikasi IPTEK terhadap
masyarakat dan mengetahui sumber informasi yang paling sering digunakan masyarakat
untuk mendapatkan informasi IPTEK, seperti TV, radio,koran, majalah, internet,
museum, dll. Adapun indikator perilaku mencakup perilaku dan penerimaan
masyarakat terhadap proses pendanaan suatu inovasi IPTEK serta presepsi
masyarakat terhadapkeuntungan dan resiko penerapan inovasi IPTEK tersebut.
C.Peranan teknologi terhadap sturktur organisasi
Penggunaan TI (Teknologi Informasi) dalam sebuah
organisasi sangatlah penting, dan untuk menerapkan TI tersebut haruslah dilihat
karakteristik organisasi tersebut sebelumnya. Peran teknologi informasi bagi sebuah
perusahaan dapat dilihat dengan menggunakan kategori yang diperkenalkan oleh
G.R. Terry. Terdapat lima peranan mendasar teknologi informasi di sebuah
perusahaan atau organisasi, yaitu:
1)
Fungsi Operasional.
Membuat struktur organisasi menjadi lebih ramping telah diambil alih fungsinya
oleh teknologi informasi. Karena sifat penggunaannya yang menyebar di seluruh
fungsi organisasi, unit terkait dengan manajemen teknologi informasi akan
menjalankan fungsinya sebagai supporting agency dimana teknologi
informasi dianggap sebagai firm infrastructure.
2)
Fungsi Monitoring
and Control. Mengandung arti bahwa keberadaan teknologi informasi akan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas di level manajerial
embedded di dalam setiap fungsi manajer. Sehingga struktur organisasi unit
terkait dengannya harus dapat memiliki span of control atau peer
relationship yang memungkinkan terjadinya interaksi efektif dengan para
manajer di perusahaan terkait.
3)
Fungsi Planning
and Decision. Mengangkat teknologi informasi ke tataran peranan yang lebih
strategis lagi karena keberadaannya sebagai enabler dari rencana bisnis
perusahaan dan merupakan sebuah knowledge generator bagi para pimpinan
perusahaan yang dihadapkan pada realitas untuk mengambil sejumlah keputusan
penting sehari-harinya.
4)
Fungsi Communication.
Secara prinsip termasuk ke dalam firm infrastructure dalam era
organisasi modern, dimana teknologi informasi ditempatkan posisinya sebagai
sarana atau media individu perusahaan dalam berkomunikasi, berkolaborasi,
berkooperasi, dan berinteraksi.
5)
Fungsi Interorganisational.
Merupakan sebuah peranan yang cukup unik karena dipicu oleh semangat
globalisasi yang memaksa perusahaan untuk melakukan kolaborasi atau menjalin
kemitraan dengan sejumlah perusahaan lain. Tipe dan fungsi peranan teknologi
informasi ini secara langsung akan berpengaruh terhadap rancangan atau desain
struktur organisasi perusahaan, dan struktur organisasi departemen, divisi,
atau unit terkait dengan sistem informasi, teknologi informasi, dan manajemen
informasi.
Pembangunan teknologi informasi perusahaan dilakukan secara bertahap
sebelum sebuah sistem holistik atau menyeluruh selesai dibangun, hal tersebut
disesuaikan dengan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Dalam penerapannya,
rencana strategis teknologi informasi senantiasa di selaraskan dengan rencana
perusahaan, agar setiap penerapan teknologi informasi dapat memberikan nilai
bagi perusahaan.
Departemen IT seringkali dipandang sebelah mata karena merupakan
departemen yang hanya bisa menghabiskan uang tanpa bisa menghasilkan uang. Hal
inilah yang kadang menadi problematika tersendiri bagi Departemen IT di
perusahaan. Untuk dapat mengetahui andil Departemen IT di perusahaan adalah
dengan mengetahui keuntungan-keuntungan penerapan teknologi IT di perusahaan
tersebut, misalnya seperti:
a)
Manual
menjadi otomatis, dan hal ini mengurangi biaya untuk tenaga kerja, alat tulis,
dan lain-lain.
b)
Waktu
mengerjakan yang lebih cepat dengan adanya IT.
c)
Pengambilan
keputusan yang lebih cepat, karena dengan IT maka data yang dibutuhkan dapat
diperoleh dengan cepat.
d)
Menghemat
biaya promosi dan pemasaran.
e)
Sistem dapat
terintegrasi di semua kantor atau perusahaan, dan hal ini dapat meningkatkan
kecepatan dalam merespon sesuatu dan pihak manajemen akan dengan cepat
mengetahui kondisi perusahaan.
Informasi (SI) secara umum mempunyai beberapa peranan dalam
perusahaan, diantaranya sebagai berikut.
1)
Minimal Risk.
Setiap bisnis memiliki resiko, terutama berkaitan
dengan faktor-faktor keuangan. Kehadiran teknologi informasi selain harus mampu
membantu perusahaan mengurangi resiko bisnis yang ada, perlu pula menjadi
sarana untuk membantu manajemen dalam mengelola resiko yang dihadapi.
2)
Reduce Costs
Peranan teknologi informasi
sebagai katalisator dalam berbagai usaha pengurangan biaya-biaya operasional
perusahaan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan.
Sehubungan dengan hal tersebut biasanya ada empat cara yang ditawarkan
teknologi informasi untuk mengurangi biaya-biaya kegiatan operasional yaitu:
a) Eliminasi proses, implementasi berbagai
komponen teknologi informasi akan mampu menghilangkan atau mengeliminasi
proses-proses yan dirasa tidak perlu.
b) Simplifikasi proses, berbagai proses yang panjang
dan berbelit-belit (birokratis) biasanya dapat di sederhanakan dengan
mengimplementasikan berbagai komponen teknologi informasi.
c) Integrasi proses, teknologi informasi juga mampu melakukan
pengintegrasian beberapa proses menjadi satu sehingga terasa lebih cepat dan
praktis.
d) Otomatisasi proses, mengubah proses manual menjadi otomatis merupakan
tawaran klasik dari teknologi informasi.
3) Add Value
Menciptakan value bagi pelanggan perusahaan. Tujuan
akhir dari penciptaan value tidak sekedar untuk memuaskan pelanggan, tetapi
lebih jauh lagi untuk menciptakan loyalitas sehingga pelanggan tersebut
bersedia selalu menjadi konsumennya untuk jangka panjang.
4) Create New Realities
Mampu menciptakan suatu arena bersaing baru bagi perusahaan, yaitu di
dunia maya. Berbagai konsep e-business semacan e-commerce, e-procurement, e-customer, e-loyalty,
dan lain-lainnya pada dasarnya merupakan cara pandang baru dalam menanggapi
mekanisme bisnis di era globalisasi informasi.
D.Dampak negatif dari perkembangan teknologi
terhadap struktur masyarakat
Akibat kemajuan teknologi
terhadap sosial budaya
a.Perbedaan kepribadian pria dan wanita.
Banyak
pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang
posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia
bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan
pekerjaan pria semakin menonjol. Data yang tertulis dalam buku Megatrend for
Women:From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene &
John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin
membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen,
senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya.
b.Meningkatnya rasa percaya diri.
Kemajuan
ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan
kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri
sebagai suatu bangsa akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat
melecehkan bangsa-bangsa Asia.
c.Tekanan
Kompetisi
yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan
melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.Meskipun demikian
kemajuan teknologi akan berpengaruh negatif pada aspek budaya antara lain :
·
Kemerosotan moral di
kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan
kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai
keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya
dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.
·
Kenakalan dan tindak
menyimpang di kalangan remaja semakinmeningkat semakin lemahnya kewibawaan
tradisi-tradisi yang ada dimasyarakat, seperti gotong royong dan
tolong-menolong telahmelemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan
penting dalammenciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama,
kenakalandan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakinmeningkat
dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret,pelanggaran lalu
lintas sampai tindak kejahatan
·
Pola interaksi antar
manusia yang berubah Kehadiran komputer padakebanyakan rumah tangga golongan
menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang
disambungkan dengan telpon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk
berhubungan dengan dunia luar.Program internet relay chatting (IRC), internet,
dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu
tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada
banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri
untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin
banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui
program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan
teman dan orang asing kapan saja.
E.Penanganan dalam penggunaan teknologi agar tidak
melanggar norma dan nilai yang di anut oleh masyarakat
Makna Konsekuensi Kultural
Teknologi Komunikasi
Untuk memahami makna konsekuensi kultural
teknologikomunikasi, perlu diungkap pengertian cultural lebih dulu.
Kulturalberasal dari kata cultural,yang dalam Bahasa Inggris berarti having to
dowith culture(berkaitan dengan budaya). Jadi, tidak berlebihan bila kultural diartikan
sebagai kebudayaan. Atas dasar pemikiran di atas, konsekuen sicultural
pemakaian teknologi komunikasi dilihat pada karakter yangdimiliki lembaga
sosial, sistem pengetahuan, perilaku keseharian individudan komunitas, sistem
nilai dan norma dalam masyarakat berubah, sebagai kelanjutan logis pemakaian
teknologi komunikasi, maka sudah terjadi konsekuensi kultural. Sebaliknya, bila
karakter lembaga sosial, sistem pengetahuan, perilaku keseharian individu dan
komunitas, sistem nilai dan norma dalam masyarakat, sebagai kelanjutan logis
pemakaian teknologi komunikasi, tidak berubah; maka tidak ada konsekuensi
kultural pemakaian teknologi komunikasi.
Konsekuensi Kultural.
Pemakaian Teknologi Komunikasi
Bila kita menengok kenyataan, misalnya pada
perilaku orang-orang yang suka mengakses internet, temyata mereka sadar bahwa
kadang-kadang mereka "berurusan" dengan apa yang disebut realitas
maya (virtualreality). Realitas maya sendiri, seperti ditulis Mark Slouka,
merujuk pada lingkungan yang "menyelubungi" atau "menghidupkan
secara sensual",yang dimasuki individu dengan cara menghubungkan dirinya
ke komputer(1999:38). Dengan kata lain, orang-orang yang suka mengakses
internet sadar bahwa komputer menciptakan ilusi untuk mereka. Tetapi,
tidak banyak yang bisa membedakan ilusi tersebut dengan dunia
nyata.Akibatnya, mereka merasa senang menghadapinya. Bisa saja tawaran yang diajukan
dunia semu itu sejalan dengan kebutuhan individu yang mengakses internet. Bisa
saja tawaran dunia semu tersebut sesuai dengan keinginan individu untuk
menciptakan identitas baru buat dirinya. Yang jelas, jaringan internet
telah menawarkan bentuk komunitas baru, yaitu komunitas maya (virtual community).
Dalam konteks komunitas semu ini,paling sedikit ada dua konsekuensi kultural
pemakaian teknologi komunikasi yang menonjol, yaitu:
1. Perubahan Sistem Nilai dan Norma
Jika diibaratkan sebagai pengembara, maka
orang-orang yang mengakses internet akan banyak melakukan perjalanan, banyak
melihatdan tentu saja banyak memperoleh informasi. Semua pengalarnan itu,tentu
saja akan mengubah pandangan mereka tentang diri mereka sendiri serta nilai dan
norma yang selama ini mereka anut. Bukan mustahil mereka lantas mengadopsi
nilai-nilai profesionalisme yang mengutamakan prinsip kepakaran, otoritas,
otonomi, autensitas dan integritas. Bukan mustahil pula mereka tidak menyukai
lagi solidaritas komunal. Kalau iniyang terjadi, sesungguhnya perubahan sistem
nilai itu baik untuk kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Artinya,
nilai-nilai yang diadopsi adalah nilai yang bermanfaat untuk membangun
kebudayaan industrial.Tetapi bukan mustahil yang terjadi adalah, orang-orang
yang mengakses internet tidak peduli lagi dengan tatanan moral, sistem nilai
dan norma yang telah disepakati berpuluh-puluh tahun. Mereka hanyut dalam
pengembaraan mereka dan menabrak apa saja yang mereka anggap menghambat tujuan
mereka. Mereka merasa tidak peduli lagi dengan segala aturan yang ada. Bila
melihat kenyataan di negara-negara maju, kita tentu mengerti bahwa perubahan
yang terjadi pada orang-orang yang mengakses internet adalah perubahan moral
dan kemanusiaan. Orang tidak peduli lagi dengan moral yang selama ini
dijunjung tinggi. Orang jugatidak peduli dengan nilai kemanusiaan orang lain.
Sudah begitu, orang lebih percaya pada isu daripada informasi, lebih percaya
pada rumor ketimbang kebenaran. Pergeseran nilai yang nampak ekstrim adalah kemudahan
pengguna untuk menjelajahi situs-situs porno atau situs-situs cabul yang banyak
bertebaran di internet dan bebas sensor karena internet dianggap tidak memiliki
aturan dan kejelasan hukum dalam penggunaannya. Selain itu muncul kejahatan
menggunakan internet yangdisebut dengan“carding” berupa pembobolan kartu kredit
milik orang lain. Ini disebabkan karena keamanan dalam internet saat ini masih
belum sempurna khususnya berkaitan dengan subscribe
pendaftaran diri pada suatu situs.
2.Penyerahan sebagian otoritas diri pada teknologi
komunikasi
Bila
dicermati maka orang-orang yang mengakses teknologi komunikasi informasi akan
meluangkan waktu yang banyak dan biaya yang mahal untuk mencari informasi yang
dibutuhkan. Meski telah terpuaskan oleh informasi yang didapat kecenderungannya
orang-orang tersebut akan terus mencari dan mencari informasi memalui
internet.Disinilah kondisi penyerahan diri pada teknologi terjadi akibatnya.Keasyikan
dalam menggunakan internet menjadikan semacam kecanduan yang mau tidak mau
membawa ke arah pengeluaran keuangan yang lebih.Selain itu penggunaan internet
memunculkan trend centre
Gaya hidup dengan
penambahan pengetahuan dari media internet Orang tidak dianggap eksis bila
tidak memiliki e-mail atau bergabung dalam komunitas virtual seperti friendster
atau blogger. Lembaga tidak dianggap eksis bila tidak memiliki website atau
situs resmi.
3. Kolonialisasi
Munculnya
teknologi komunikasi menyebabkan arus informasidari Negara maju ke negara
berkembang adalah tidak seimbang.Ketidakseimbangan ini menyebabkan masyarakat
negara tertentu lebih banyak mengkonsumsi informasi dari negara yang rich
informations (maju). Sehingga memungkinkan munculnya kolonialisasi>
Kolonialisasi disini bukannya taktik imperialisme dalam penaklukan negara lain
melaluiakuisisi tanah dan wilayah namun berupa penjajahan melalui arus informasi.Sikap
terhadap Informasi dan Teknologi Salah satu nilai penting yang harus dibangun
dalam penggunaan teknologi komunikasi adalah kejujuran (saling percaya).
Ketidaksaling-percayaan dapat membuat teknologi komunikasi sia-sia. Sebagai
contoh, perangkat teknologi yang dipasang di Gedung MPR bernilai ratusan juta
rupiah untuk menghitung perolehan suara lewat voting tidak digunakan sama
sekali dalam sidang MPR tahun 1999 karena setiap pihak (wakil partai politik)
tidak percaya bahwa perangkat tersebut mampu menghitung suara secara benar.
Kecurigaan timbal balik di antara berbagai pihak tersebut telah memubazirkan
alat teknologi yang harganya mahal itu, padahal uang rakyat digunakan untuk
itu.Maka sebelum kita menyebarkan IPTEK dan meningkatkan daya saingnya kepada
masyarakat, sekali lagi aspek-aspek tersebut harus cocok dengan nilai-nilai
yang kita anut sebagai bangsa, dan harus bermanfaat bagi kemajuan bangsa kita
lahir-batin. Sayangnya hingga saat ini kita belum memiliki jati-diri ini. Maka sebelum
atau seraya kita mengembangkan dan menerapkan IPTEK kepada masya-rakat, kita
juga harus menanamkan nilai-nilai yang ingin kita anut sebagai sebuah bangsa
yang bermartabat. Tanpa jati-diri yang kuat, tidak mungkin kita dapat memajukan
bangsa kita lewat pengembangan IPTEK.Jati-diri bangsa kita adalah ruh
pembangunan masyarakat ini. Tanpa keyakinan ini kita akan terombang-ambing
dalam percaturan antar bangsa. Kita akan dimanipulasi bangsa lain,
dimanfaatkan, dikambing-hitamkan. Kita akanmenjadi budak mereka bukan mitra
sejajar yang punya harga diriUntuk mengembangkan IPTEK di Indonesia, kita perlu
melakukan penelitian mengenai sistem budaya (kepercayaan) berbagai komunitas di
Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan budaya mereka terhadap
hal-hal yang baru. Penelitian mengenai ragam nilai budaya komunitas-komunitas
etnik misalnya perlu dilakukan secara intensif. Para antropolog,sosiolog,
psikolog, komunikolog, dan linguis perlu diterjunkan untuk menghimpun
sistem nilai budaya mereka, termasuk bahasa mereka yang mencerminkan
nilai-nilai tersebut..
Sumber:
·
Mangunwijaya, Y. B. 1983. Teknologi dan Dampak Kebudayaannya,
Mangunwijaya, Y. B. 1983. Teknologi dan Dampak Kebudayaannya,
·
YayasanObor Indonesia.Pikiran Rakyat, 29 Agustus
2001Sinaga,
·
Anggiat. 2001. Sains, Teknologi dan Kemasyarakatan,
WartaSosioteknologi: ITBSutama, Adji yang diakses diwww.bpkpenabur.or.id/index.htmUU No. 18
Tahun 2002 Tentang Sistem
·
http://kuantin1993.blogspot.com/2013/06/peran-teknologi-informasi-dalam.html
h
h https://www.scribd.com/doc/94532888/sosioteknologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar