Rabu, 09 Desember 2015

Peran Good Corporate Governance dalam etika bisnis



NAMA   : ALDI ANTONO PURWANTO
NPM       : 10212571
KELAS  : 4EA25

Pengertian Good Corporate Governance (GCG)
   Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.

Penerapan Good Corporate Governance (GCG)
   Perusahaan dijalankan dalam sebuah kerangka yang didasarkan oleh peraturan perundang-undangan, arahan dari pemegang saham dan juga dengan mempertimbangkan kepentingan stakeholders. Inilah mengapa setiap perusahaan memerlukan kerangka Good Corporate Governance (GCG) yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi usahanya. Tahap dasar dalam keseluruhan penerapan GCG yang efektif adalah adanya pemahaman yang mendalam mengenai GCG. Dengan adanya pemahaman tersebut, perusahaan dapat mulai melalukan berbagai tahapan pembenahan dan pengembangan situasi yang dapat mendukung penerapan GCG yang efektif.
   Pembenahan Struktur Governance. Agar GCG dapat diterapkan, perlu ada struktur yang dapat mendukung. Perusahaan harus memiliki organ perusahaan yang dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ mempunyai kemandirian dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Pembenahan Mekanisme Governance Perusahaan. Setelah struktur yang ada dibuat untuk dapat mendukung penerapan GCG, maka perlu dipastikan agar mekanisme kepengurusan perusahaan juga dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip GCG.
   Menjadikan GCG sebagai budaya perusahaan. Mengapa GCG perlu dijadikan budaya perusahaan Karena sesuatu yang telah menjadi perilaku keseharian dan menjadi budaya, memiliki potensi implementasi yang lebih baik, sebab GCG secara otomatis akan menjadi patokan dalam beraktivitas. Karena budaya perusahaan merupakan sesuatu yang harus dibentuk dan merupakan akumulasi dari sebuah perjalanan, maka menjadikan GCG sebagai budaya perusahaan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Agar GCG dapat menjadi budaya perusahaan, sebelumnya perlu dilakukan beberapa tahapan, Pertama perusahaan perlu menetapkan value yang dianut oleh perusahaan dalam melakukan aktivitas usahanya.
   Value perusahaan ini harus menggambarkan sikap moral perusahaan. Agar sikap moral tersebut dapat benar-benar diimplementasikan dalam setiap aktivitas usaha, maka perusahaan harus merumuskan etika berbisnis/berusaha yang disepakati bersama. Etika bisnis inilah yang menjadi tolok ukur dalam setiap perilaku. Pelaksanaan etika bisnis yang berkesinambungan akan dapat membentuk budaya perusahaan yang merupakan cerminan dari sikap moral yang dianut perusahaan. Agar setiap individu dalam perusahaan dapat lebih mengerti akan perilaku apa yang diharapkan, sikap moral dan etika berbisnis ini perlu dijabarkan dalam sebuah pedoman perilaku. Dokumen ini juga akan bermanfaat sebagai acuan dalam melakukan interaksi usaha, jika karyawan dihadapkan pada kondisi yang mungkin memiliki potensi pelanggaran terhadap etika berbisnis.
   Kendala paling mendasar dalam penerapan GCG di Indonesia berhubungan dengan moral dan etika. Misalnya, perusahaan  publik di Indonesia umumnya berpola kepemilikan yang terkonsentrasi dengan basis hubungan keluarga (family ownership)  serta pada umumnya bergabung dalam suatu jaringan kelompok bisnis berbasis keluarga (family business groups) Dengan bercirikan keluarga sebagai pemilik mayoritas perusahaan, maka kekuatan tawar menawar pihak ini menjadi sangat kuat. Terlepas dari efektif atau tidaknya perangkat  hukum dan peraturan yang ada mampu membatasi ruang gerak mereka, tanpa basis moral dan etika yang kuat, peluang untuk mendahulukan kepentingan kelompok pemilik mayoritas dengan mengorbankan kepentingan pihak lain, misalnya pemilik minoritas, bahkan masyarakat/public menjadi sangat besar

 ETIKA BISNIS DAN KONSEP GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Code of Corporate and Business Conduct

Kode Etik dalam tingkah laku berbisnis di perusahaan (Code of Corporate and Business Conduct)” merupakan implementasi salah satu prinsip Good Corporate Governance (GCG). Kode etik tersebut menuntut karyawan & pimpinan perusahaan untuk melakukan praktek-praktek etik bisnis yang terbaik di dalam semua hal yang dilaksanakan atas nama perusahaan. Apabila prinsip tersebut telah mengakar di dalam budaya perusahaan (corporate culture), maka seluruh karyawan & pimpinan perusahaan akan berusaha memahami dan berusaha mematuhi  peraturan yang ada. Pelanggaran atas Kode Etik dapat termasuk kategori pelanggaran hukum.

Nilai Etika Perusahaan

Beberapa nilai-nilai etika perusahaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip GCG, yaitu kejujuran, tanggung jawab, saling percaya, keterbukaan dan kerjasama. Kode Etik yang efektif seharusnya bukan sekedar buku atau dokumen yang tersimpan saja. Namun Kode Etik tersebut hendaknya dapat dimengerti oleh seluruh karyawan & pimpinan perusahaan dan akhirnya dapat dilaksanakan dalam bentuk tindakan (action). Beberapa contoh pelaksanaan kode etik yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan & pimpinan perusahaan, antara lain masalah :


a.    Informasi rahasia

   Dalam informasi rahasia, seluruh karyawan harus dapat menjaga informasi rahasia mengenai perusahaan dan dilarang untuk menyebarkan informasi rahasia kepada pihak lain yang tidak berhak. Adanya kode etik tersebut diharapkan dapat terjaga hubungan yang baik dengan pemegang saham (share holder), atas dasar integritas (kejujuran) dan transparansi (keterbukaan), dan menjauhkan diri dari memaparkan informasi rahasia.
Selain itu dapat terjaga keseimbangan dari kepentingan perusahaan dan pemegang sahamnya dengan kepentingan yang layak dari karyawan, pelanggan, pemasok maupun pemerintah dan masyarakat pada umumnya.

b.    Benturan Kepentingan (Conflict of interest)

   Seluruh karyawan & pimpinan perusahaan harus dapat menjaga kondisi yang bebas dari suatu benturan kepentingan (conflict of interest) dengan perusahaan. Suatu benturan kepentingan dapat timbul bila karyawan & pimpinan perusahaan memiliki, secara langsung maupun tidak langsung kepentingan pribadi didalam mengambil suatu keputusan, dimana keputusan tersebut seharusnya diambil secara obyektif, bebas dari keragu-raguan dan demi kepentingan terbaik dari perusahaan.
Beberapa kode etik yang perlu dipatuhi oleh seluruh karyawan & pimpinan perusahaan, antara lain menghindarkan diri dari situasi (kondisi) yang dapat mengakibatkan suatu benturan kepentingan. Selain itu setiap karyawan & pimpinan perusahaan yang merasa bahwa dirinya mungkin terlibat dalam benturan kepentingan harus segera melaporkan semua hal yang bersangkutan secara detail kepada pimpinannya (atasannya) yang lebih tinggi.
Setiap karyawan & pimpinan perusahaan yang melanggar ketentuan dalam Kode Etik tersebut perlu dikenakan sanksi yang tegas sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku di perusahaan, misalnya tindakan disipliner termasuk sanksi pemecatan (Pemutusan Hubungan Kerja).
Untuk melakukan pengujian atas Kepatuhan terhadap Kode Etik tersebut perlu dilakukan semacam audit kepatuhan (compliance audit) oleh pihak yang independent, misalnya Internal Auditor, sehingga dapat diketahui adanya pelanggaran berikut sanksi yang akan dikenakan terhadap karyawan & pimpinan perusahaan yang melanggar kode etik. Akhirnya diharpkan para karyawan maupun pimpinan perusahaan mematuhi Code of Corporate & Business Conduct yang telah ditetapkan oleh perusahaan sebagai penerapan GCG.

Sumber

·         Sutedi, Andrian, 2011, Good Corporate Governance, Jakarta: Sinar Grafika
Offset.

·         Khairandy, Ridwan, 2007, Good Corporate Governance, Jakarta: PT. Buku Kita,
2007.

·         Sheridan, Thomas, Corporate Governance Pengendalian Perusahaan, Jakarta: PT
Elex Media Komputindo

·         http://rezarezadwirm.blogspot.com/2013
- See more at: http://dewirahma174.blogspot.co.id/2015/04/konsep-good-corporate-governance-dan.html#sthash.UWiSryE0.dpuf
·         http://dewirahma174.blogspot.co.id/2015/04/konsep-good-corporate-governance-dan.html

Selasa, 20 Oktober 2015

jurnal budaya organisasi



Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Dan
Kepuasan Kerja Serta Kinerja Karyawan Pada Sub Sektor
Industri Pengolahan Kayu Skala Menengah
Di Jawa Timur


H.Teman Koesmono
Staf Penjajar Fakultas Ekonomi, Universitas Katholik Widya Mandala, Surabaya


ABSTRAK

    Tujuan dari penelitian ini untuk memenemukan bagaimana besarnya pengaruh Budaya Organisasi terhadap Motivasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja  karyawan khususnya karyawan dibagian produksi. Unit analisisnya adalah  karyawan produksi pada subsektor industri pengolahan kayu di Jawa Timur.  Secara positif perilaku seseorang akan berpengaruh terhadap kinerjanya,  disamping itu peneliti menguji hipotesis bahwa motivasi berpengaruh kepada  kepuasan kerja dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja. Hasilnya  bahwa secara langsung motivasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar  1.462 dan motivasi berpengaruh terhadap kinerja sebesar 0.387, kepuasan kerja  berpengaruh terhadap kinerja sebesar 0,003 dan budaya organisasi berpengaruh  terhadap kinerja sebesar 0.506, budaya organisasi berpengaruh terhadap motivasi sebesar 0.680 dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 1.183. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti berikutnya, sebagai bahan penelitian pada bidang ilmu pengetahuan perilaku organisasi atau
ilmu pengetahuan yang sejenisnya.

Kata kunci:   budaya organisasi, motivasi, kepuasan kerja, kinerja dan
perilaku manusia.


ABSTRACT

    The purpose of this researched is to find out how big is the effect of organization culture to ward motivation, job satisfaction and employee’s job performance, especially on the employee’s in the production area. The analytical unit is the employee’s in production area sub sector in wood industry in East Java. The more positive someone’s behavior will definitely effect her/his performance, this is proven when the researcher tested the hypothesis that motivation effects the job satisfaction and job satisfaction effects the performance. The result of the direct effect on employee’s motivation toward job satisfaction is 1.462,and toward performance is 0.387, the direct effet job satisfaction toward job performance is 0.003, the direct effect organization culture toward job performance is 0.506, the direct effect organization culture toward motivation is 0.680, the direct effect organization culture toward job satisfaction is 1.183. Beside, this research result is useful for the next researchers, as research material in organitional behavior science or the same kind of science.

Keywords: Organization culture, Motivation, Job satisfaction, Job performance, Human behavior.

PENDAHULUAN

   Salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Melimpahnya sumber daya manusia yang ada saat ini mengharuskan berfikir secara seksama yaitu bagaimana dapat memanfaatkan sumber daya manusia  secara optimal. Agar di masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan pekerjaan yang memadai. Kelemahan dalam penyediaan berbagai fasilitas tersebut akan menyebabkan keresahan sosial yang akan berdampak kepada keamanan masyarakat. Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya.

   Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia  yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah maupun pusat, artinya dari produktivitas regional maupun nasional, dapat menunjang perekonomian baik secara makro maupun mikro. Mengenai produktivitas kerja menjadi masalah nasional pula, karena produktivitas tenaga kerja Indonesia masih memprihatinkan. Zadjuli (2001 : 6); kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini dibandingkan dengan kualitas sumber daya manusia di beberapa negara anggota-anggota ASEAN nampaknya masih rendah kualitasnya, sehingga mengakibatkan produktivitas per jam kerjanya masih rendah (menurut World Development Report, Indonesia pada tahun 2002 produktivitas per pekerja per jam sebesar 1,84 US $ dan yang tertinggi adalah Singapura 35,91 US $, diikuti oleh Malaysia 4,71 US $ dan Thailand 4,56 US $).

   Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, untuk itu perusahaan harus berusaha menjamin agar faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas  tenaga kerja dapat dipenuhi secara maksimal. Kualitas sumber daya manusia akan terpenuhi apabila kepuasan kerja sebagai unsur yang berpengaruh terhadap kinerja dapat tercipta dengan sempurna. Membahas kepuasan kerja tidak akan terlepas dengan adanya faktor-faktor yang  dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Dalam perusahaan manufacturing,  produktivitas individu maupun kelompok sangat mempengaruhi kinerja perusahaan hal ini disebabkan oleh adanya proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Mengingat permasalahannya sangat komplek sekali, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi harus cermat dalam mengamati sumber daya yang ada. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, sehingga pengusaha harus menjaga factor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja dapat terpenuhi secara maksimal. Persoalan kepuasan kerja akan dapat terlaksana dan terpenuhi apabila beberapa variabel yang mempengarhui mendukung sekali. Variabel yang dimaksud adalah Culture  dan Motivation. Dapat dikatakan pula bahwa secara tidak langsung ketiga variabel tersebut mempengaruhi kinerja seseorang dan pada ujung-ujungnya kinerja perusahaan dapat tercapai dengan baik. Sehubungan dengan hal tersebut, agar karyawan selalu konsisten dengan kepuasannya maka setidak-tidaknya perusahaan selalu memperhatikan lingkungan di mana karyawan melaksanakan tugasnya misalnya rekan kerja, pimpinan, suasana kerja dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya. Membahas masalah budaya itu sendiri merupakan hal yang esensial bagi suatu organisasi atau perusahaan, karena akan selalu berhubungan dengan kehidupan yang ada dalam perusahaan.  Budaya organisasi merupakan falsafah, ideologi, nilai-nilai, anggapan, keyakinan, harapan, sikap dan norma-norma yang dimiliki secara bersama serta mengikat dalam suatu komunitas tertentu. Secara spesifik budaya dalam organisasi akan ditentukan oleh kondisi team work, leaders dan characteristic of organization serta administration process yang berlaku. Mengapa budaya organisasi penting, karena merupakan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam hirarki organisasi yang mewakili norma-norma perilaku yang diikuti oleh para anggota organisasi. Budaya yang produktif adalah budaya yang dapat menjadikan organisasi menjadi kuat dan tujuan perusahaan dapat terakomodasi. Robbins (2001:528); Organizational culture as an intervening variable. Employees form an overall subjective perception of the organization based on such factor as degree of risk tolerance, team emphasis and support of people. This overall perception becomes, in effect, the organization culture or personality. These favorable or unfavorable perception then affect employee performance and satisfaction, with the impact being greater for stronger
culture.

    Faktor lain yang berperan dalam menjadikan karyawan lebih berperilaku terarah apabila ada unsur-unsur positif dalam dirinya masing-masing. Luthans (1992:165); Porter and Lawler start with the premise that motivation (effort or force) does not equal satisfaction and/or performance. Motivation, satisfaction and performance are all separate variables and relate in ways different from what was traditionally assumed. Hughes et al. (1999:388); Motivation, satisfaction and performance seem clearly related. Pada umumnya dalam diri seorang pekerja ada dua hal yang penting dan dapat memberikan motivation atau dorongan yaitu masalah Compensation dan Expectancy. Khususnya masalah compensation sebagai imbal jasa dari pengusaha kepada karyawan yang telah memberikan kontribusinya selalu menjadikan sebagai ukuran puas atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugasnya atau pekerjaannya. Demikian pula pemberian compensation dapat berdampak negatif apabila dalam pelaksanaannya tidak adil dan tidak layak yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpuasan. Besar kecilnya compensation yang diberikan kepada karyawan seharusnya tergantung kepada besar kecilnya power of contribution and thinking yang disampaikan oleh pekerja kepada perusahaan. Sehubungan dengan hal tersebut mengingat pemberian compensation harus adil tentunya harus ada ukuran yang jelas dan transparan misalnya berdasarkan outputnya (prestasi yang dicapai). 
    Dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai essential-nya dalam pemberian compensation adalah fair and suitable. Biasanya compensation dirupakan dalam bentuk financial dan non financial yang mana kedua-duanya akan diberikan dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Mengenai Expectancy, setiap orang akan memiliki harapan-harapan yang akan diperoleh dalam melakukan kegiatannya, oleh karena itu tanpa adanya nilai harapan yang dimiliki, seseorang tidak akan melakukan usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam expectancy theory dinyatakan bahwa orang termotivasi bereaksi dalam kehidupannya, berkeinginan menghasilkan kombinasi dari hasil-hasil yang diharapkan. Sehubungan dengan hal tersebut maka nampak jelas bahwa expectancy dapat mendorong seseorang untuk memenuhi  kebutuhannya, hal ini wajar karena manusia selalu mempunyai need yang berbeda-beda menurut status sosialnya di masyarakat, sehingga unsur pembentuk expectancy-nya berbeda-beda pula. Behavior merupakan bagian dari budaya yang berkaitan dengan  kinerja, hal ini tentunya logis sekali sebab dengan berperilaku seseorang akan dapat memperoleh apa yang dikehendaki dan apa yang diharapkan. Jadi behavior merupakan tindakan yang nyata dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh apa yang diharapkan. Dalam organisasi tentunya banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan jalannya organisasi atau perusahaan tentunya diwarnai oleh perilaku individu yang merasa berkepentingan dalam kelompoknya masing-masing. Perilaku individu yang berada dalam organisasi atau perusahaan tentunya sangat mempengaruhi organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini akibat adanya kemampuan individu yang berbeda-beda dalam menghadapi tugas atau aktivitasnya. Perilaku akan timbul atau muncul akibat adanya pengaruh atau rangsangan dari lingkungan yang ada (baik internal maupun eksternal) begitu pula individu berperilaku karena adanya dorongan oleh serangkaian kebutuhan. Setiap manusia atau seseorang selalu mempertimbangkan perilakunya terhadap segala apa yang diinginkan agar dapat tercapai tanpa menimbulkan konflik baik secara individu maupun kelompok, sehingga kinerja dapat tercapai sesuai
dengan yang diinginkan.

Mc Kenna and Beech (1995:121); In research undertaken by Income Data
Service, London (IDS,1989) it was concluded that the performance factors
most usually appraised were as follows:(1) knowledge, ability and skill on the
job, (2) attitude to work, expressed as enthusiasm, commitment and
motivation,(3) quality of work on a consistent basis with attention to detail,(4)
volume of performance output, (5) interaction, amplified in communication,
skill and ability to related to others  in terms.

Berdasarkan apa yang telah diuraikan maka permasalahan Job performance berkaitan dengan efektivitas kerja, untuk itulah penting kiranya membuat suatu model yang membicarakan job performance (kinerja) dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya. Sehubungan dengan hal tersebut perlu melakukan analisis pengaruh faktor perilaku organisasi terhadap kepuasan kerja dan kinerja, pengertian faktor perilaku organisasi disini adalah budaya organisasi dan motivasi.

    Pada pembahasan ini mencoba mengangkat permasalahan yang terjadi pada perusahaan-perusahaan pengolahan kayu untuk kebutuhan ekspor berekala menengah yang berada di Jawa Timur melalui job performance tenaga kerjanya dan diukur melalui berbagai indikator yang ada. Tentang kemampuan Jawa Timur yang menghasilkan produk pengolahan kayu ekspor dapat diuraikan dalam table 1.

Mengingat begitu pentingnya kegiatan ekspor dalam usaha untuk meningkatkan
devisa negara, tidak salah apabila harus memperhatikan perilaku dari sumber daya
manusia yang ada dalam perusahaan. Hal tersebut berkaitan dengan usaha-usaha
menciptakan produktivitas kerja dan disertai mutu produk yang handal. Peningkatan
produktivitas merupakan keharusan karena komitmen manajemen terhadap kualitas
layanan memegang peran yang sangat penting agar perolehan perusahaan dapat
tercapai dan terjamin kesinambungan usahanya. Di Jawa Timur banyak perusahaan
pengolahan kayu berskala menengah melakukan ekspor hasil produksinya. Berkaitan
dengan hal tersebut perlu memperoleh kajian khusus tentang sumber daya
manusianya agar perolehan devisa dari sektor pengolahan kayu dapat ditingkatkan.
Iklim usaha menengah dalam sektor pengolahan kayu sebenarnya sangat menjanjikan
apabila semua pihak yang terkait ikut berperan karena putra-putra Indonesia cukup
handal dalam bidang industri pengolahan kayu selain itu bahan bakunya cukup
terpenuhi karena alamnya mendukung.
Koesmono, Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi

RUMUSAN MASALAH
   
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan di atas dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1.  Apakah Budaya organisasi berpengaruh terhadap Kepuasan kerja ?
2.  Apakah Budaya organisasi berpengaruh terhadap Motivasi  
3.  Apakah Motivasi berpengaruh terhadap Kepuasan kerja ?
4.  Apakah Budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja ?
5.  Apakah Motivasi berpengaruh terhadap Kinerja ?
6.  Apakah Kepuasan kerja berpengaruh terhadap Kinerja?


LANDASAN TEORI

Budaya Organisasi
  
Dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak akan terlepas dari lingkungannya.
Kepribadian seseorang akan dibentuk pula oleh lingkungannya dan agar kepribadian
tersebut mengarah kepada sikap dan perilaku yang positif tentunya harus didukung
oleh suatu norma yang diakui tentang kebenanrannya dan dipatuhi sebagai pedoman
dalam bertindak. Pada dasarnya manusia atau seseorang yang berada dalam
kehidupan organisasi berusaha untuk menentukan dan membentuk sesuatu yang
dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak, agar dalam menjalankan
aktivitasnya tidak berbenturan dengan berbagai sikap dan perilaku dari masing-
masing individu. Sesuatu yang dimaksud tidak lain adalah budaya dimana individu
berada, seperti nilai, keyakinan, anggapan, harapan dan sebagainya.
Glaser et al. (1987); Budaya organisasi seringkali digambarkan dalam arti yang
dimiliki bersama. Pola-pola dari kepercayaan, simbol-simbol, ritual-ritual dan mitos-
mitos yang berkembang dari waktu ke waktu dan berfungsi sebagai perekat yang
menyatukan organisasi. Beraneka ragamnya bentuk organisasi atau perusahaan,
tentunya mempunyai budaya yang berbeda-beda hal ini wajar karena lingkungan
organisasinya berbeda-beda pula misalnya perusahaan jasa, manufaktur dan trading.
Hofstede (1986:21); Budaya merupakan berbagai interaksi dari ciri-ciri kebiasaan
yang mempengaruhi kelompok-kelompok orang dalam lingkungannya. Menurut
Beach (1993:12); Kebudayaan merupakan inti dari apa yang penting dalam
organisasi. Seperti aktivitas memberi perintah dan larangan serta menggambarkan
sesuatu yang dilakukan dan tidak dilakukan yang mengatur perilaku anggota. Jadi
budaya mengandung apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan sehingga
dapat dikatakan sebagai suatu pedoman yang dipakai untuk menjalankan aktivitas
organisasi. Pada dasarnya Budaya organisasi dalam perusahaan merupakan alat
untuk mempersatukan setiap invidu yang melakukan aktivitas secara bersama-sama.
Kreitner dan Kinicki (1995:532); mengemukakan bahwa budaya orgainsasi adalah
perekat social yang mengingat anggota dari organisasi. Nampaknya agar suatu
karakteristik atau kepribadian yang berbeda-beda antara orang yang satu dengan
orang yang lain dapat disatukan dalam suatu kekuatan organisasi maka perlu adanya
Pendapat Bliss (1999) mengatakan bahwa didalam budaya terdapat kesepakatan
yang mengacu pada suatu sistem makna secara bersama, dianut oleh anggota
organisasi dalam membedakan organisasi yang satu dengan yang lainnya. Lain
halnya dengan Robbins (1996:289); budaya organisasi merupakan suatu persepsi
bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, dan merupakan suatu sistem
makna bersama.
Mengingat budaya organisasi merupakan suatu kespakatan bersama para
anggota dalam suatu organisasi atau perusahaan sehingga mempermudah lahirnya
kesepakatan yang lebih luas untuk kepentingan perorangan. Keutamaan budaya
organisasi  merupakan pengendali dan arah dalam membentuk sikap dan perilaku
manusia yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan organisasi. Secara individu
maupun kelompok seseorang tidak akan terlepas dengan budaya organisasi dan pada
umumnya mereka akan dipengaruhi oleh keaneka ragaman sumber-sumber daya yang
ada sebagai stimulus seseorang bertindak
Kartono (1994 :138); mengatakan bahwa bentuk kebudayaan yang muncul pada
kelompok-kelompok kerja di perusahaan-perusahaan berasal dari macam-macam
sumber, antara lain : dari stratifikasi kelas sosial asal buruh –buruh/pegawai, dari
sumber-sumber teknis dan jenis pekerjaan, iklim psikologis perusahaan sendiri yang
diciptakan oleh majikan, para direktur dan manajer-manajer yang melatarbelakangi
iklim kultur buruh-buruh dalam kelom pok kecil-kecil yang informal. Hidayat (2002);
we were all born of human beings and then grew up by social upbringing with
culture environment. Since cultures always process plural nation language,
tradition and relegion are indispensably diverse.
Molenaar (2002), Kotter dan Heskett (1992); Budaya mempunyai kekuatan
yang penuh, berpengaruh pada individu dan kinerjanya bahkan terhadap lingkungan
kerja. Buchanan dan Huczyski (1997:518); elemen-elemen budaya organisasi atau
perusahaan adalah nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, pendapat-pendapat, sikap-
sikap dan norma-norma.
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh seseorang tentunya berbeda-beda dalam
bentuk perilakunya. Dalam organisasi implementasi budaya dirupakan dalam bentuk
perilaku artinya perilaku individu dalam organisasi akan diwarnai oleh budaya
organisasi yang bersangkutan. Arnold dan Feldman (1986:24); perilaku individu
berkenaan dengan tindakan yang nyata dilakukan oleh seseorang dapat diartikan
bahwa dalam melakukan tindakan seseorang pasti akan tidak terlepas dari
perilakunya.

Motivasi
Berbagai usaha yang dilakukan oleh manusia tentunya untuk memenuhi
keinginan dan kebutuhannya, namun agar keinginan dan kebutuhannya dapat
terpenuhi tidaklah mudah didapatkan apabila tanpa usaha yang maksimal. Mengingat
kebutuhan orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda tentunya cara untuk
memperolehnya akan berbeda pula. Dalam memenuhi kebutuhannya seseorang akan
berperilaku sesuai dengan dorongan yang dimiliki dan apa yang mendasari
perilakunya, untuk itu dapat dikatakan bahwa dalam diri seseorang ada kekuatan
Koesmono, Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi yang mengarah kepada tindakannya. Teori motivasi merupakan konsep yang bersifat
memberikan penjelasan tentang kebutuhan dan keinginan seseorang serta
menunjukkan arah tindakannya. Motivasi seseorang berasal dari interen dan eksteren.
Herpen et al. (2002); hasil penelitiannya mengatakan bahwa motivasi seseorang
berupa intrinsik dan ekstrinsik Sedangkan Gacther and falk (2000), Kinman and
Russel (2001); Motivasi intrinsik dan ekstrinsik sesuatu yang sama-sama
mempengaruhi tugas seseorang. Kombinasi insentive intrinsik dan ekstrinsik
merupakan kesepakatan yang ditetapkan dan berhubungan dengan psikologi
seseorang.
Berbagai teori motivasi yang ada salah satunya adalah Porter Lawler Model.
Persoalan antara kepuasan kerja dan kinerja muncul sejak adanya gerakan hubungan
antar manusia. Sebenarnya dalam teori muatan tersirat adanya bahwa kepuasan
mengarah kepada kinerja dan tidak kepuasan menurunkan kinerja. Porter Lawler
menyatakan bahwa proses kognitif dalam persepssi memainkan suatu peran sentral
bahwa hubungan antara kepuasan dan kinerja berhubngan secara langsung dengan
suatu model motivasi.
Menurut Mondy and Noe (1996:358); Direct financial compensation consist of
the pay that a person receives in the form of wages salaries, bonuses and
commissions. Indirect financial compensation (benefits) includes all financial
rewards that are not included direct compensation.
Kompensasi non keuangan terdiri dari kepuasan yang diterima oleh seseorang
dari tugas atau dari psikologi dan atau lingkungan phisik dimana seseorang bekerja.
Pada saat-saat tertentu seseorang dalam menerima kompensasi akan mengukur
penerimaannya dengan bentuk nonfinancial atau financial hal ini tergantung pada
tingkat kebutuhan yang dimilikinya.
Werther and Davis (1996:381); Manajemen kompensasi berusaha keras
membuat keadilan luar dan dalam. Internal menghendaki keadilan nilai pembayaran
relatif sama dengan tugas yang diterima sedangkan eksternal adalah pembayaran
pekerja sebanding dengan pembayaran oleh perusahaan lain dipasaran tenaga kerja.
Jadi kompensasi berusaha untuk memberikan kewajaran terhadap pembayaran-
pembayaran yang diterima oleh pekerja baik dilihat dari dalam perusahaan maupun
dari luar perusahaan. Tjosvold et al. (2003); Reward and task system are potentially
very critical for inducing cooperative conflict.

Kepuasan Kerja
Pada dasarnya bahwa seseorang dalam bekerja akan merasa nyaman dan tinggi
kesetiannya pada perusahaan apabila dalam bekerjanya memperoleh kepuasan kerja
sesuai dengan apa yang diinginkan. Khususnya di Perusahaan manufaktur kepuasan
kerja sangat didambakan oleh semua pihak, karena dalam perusahaan manufaktur
kegiatan dimulai dari pengadaan bahan baku sampai menjadi barang jadi penuh
dengan tantangan baik secara psikologi maupun jasmani. Kepuasan kerja itu sendiri
sebenarnya mempunyai makna apa bagi seorang pekerja ?, ada dua kata yaitu
kepuasan dan kerja. Kepuasan adalah sesuatu perasaan yang dialami oleh seseorang, dimana apa yang diharapkan telah terpenuhi atau bahkan apa yang diterima melebihi
apa yang diharapkan, sedangkan kerja merupakan usaha seseoranguntuk mencapai
tujuan dengan memperoleh pendapatan atau kompensasi dari kontribusinya kepada
tempat pekerjaannya.
Dole and Schroeder (2001); Kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai
perasaan dan reaksi individu terhadap lingkungan pekerjaannya, sedangkan menurut
Testa (1999)dan Locke (1983); Kepuasan kerja merupakan kegembiraan atau
pernyataan emosi yang positif hasil dari penilaian salah satu pekerjaan atau
pengalaman-pengalaman pekerjaan. Nasarudin (2001); Igalens and Roussel (1999);
Job satisfaction may be as a pleasurable ar positive emotional state resulting from
the appraisal of one’s job or job experiences. Dalam pernyataan tersebut
mengandung makna bahwa kepuasan kerja merupakan suatu keadaan emosi yang
positif atau dapat menyenangkan yang dihasilkan dari suatu penilaan terhadap
pekerjaan atau pengalaman-pengalaman kerja seseorang.
Ward and Sloane (1999); elemen of job satisfaction : (1) relationship with
colleagues; (2) relationship with head of department;(3) ability and efficiency of
head of department; (4) hours of work; (5) opportunity to use initiative; (6)
Promotion prospects; (7) salary; (8); job security; (9) actual work undertaken; (10)
overall job satisfaction. Penelitian Linz (2002); mengatakan bahwa secra positif
sikap terhadap kerja ada hubungan positif dengan kepuasan kerja.
Pada dasarnya makin positif sikap kerja makin besar pula kepuasan kerja, untuk
itu berbagai indikator dari kepuasan kerja perlu memperoleh perhatian khusus agar
pekerja dapat meningkatkan kinerjanya. Pada umumnya seseorang merasa puas
dengan pekerjaanya karena berhasil dan memperoleh penilaiaan yang adil dari
pimpinannya.

Kinerja
Seseorang akan selalu mendambakan penghargaan terhadap hasil pekerjaanya
dan mengharapkan imbalan yang adil. Penilaiaan kinerja perlu dilakukan seobyektif
mungkin karena akan memotivasi karyawan dalam melakukan kgiatannya.
Disamping itu pula penilaan kinerja dapat memberikan informasi untuk kepentingan
pemberian gaji, promosi dan melihat perilaku karyawan.
Waldman (1994); kinerja merupakan gabungan perilaku dengan prestasi dari
apa yang diharapkan dan pilihannya atau bagian syarat-syarat tugas yang ada pada
masing-masing individu dalam organisasi. Sedangkan menurut Mangkunegara
(2001:67); kinerja dapat didefinisikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dapat dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Cascio (1995:275)
mengatakan bahwa kinerja merupakan prestasi karyawan dari tugas-tuganya yang
telah ditetapkan. Soeprihantono (1988 :7); mengatakan bahwa kinerja merupakan
hasil pekerjaan seorang karyawan selama pereode tertentu dibandingkan dengan
berbagai kemungkinan, misalnya standard, target/sasran/criteria yang telah ditentukan
terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan , tentunya
membtuhkankriteria yang jelas, karena masing-masingjenis pekerjaan tentunya
mempunyai standar yang berbeda-beda tentang pencapaian hasilnya. Makin rumit
jenis pekerjaan, maka standard operating procedure yang ditetapkan akan menjadi
syarat mutlak yang harus dipatuhi.

Hipotesis

1.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja
2.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap motivasi
3.  Motivasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja
4.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja
5.  Motivasi berpengaruh terhadap kinerja
6.  Kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja


METODE PENELETIAN

Desain Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang ada
karakteristik masalah yang diteliti dalam penelitian ini dapat dikalsifikasikan sebagai
penelitian dengan hipotesis. Peneliti melaksanakan kegiatan penelitian terhadap fakta-
fakta yang terjadi saat ini dari suatu populsi pekerja dari perusahaan pengoahan kayu
berskala meneengah. Penelitian ini akan menyajikan sampai sejauh mana pengaruh
budaya organisasi terhadap kepuasan kerja dan motivasi serta kinerja karyawan.

Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data interval, yang dinyatakan dalam angka-
angka mulai dari skala yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan mempunyai
jarak yang sama antara angka yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan sumber
data yang digunakan adalah bersifat primer dengan cara menyebarkan kuisioner
kepada responden.

Identifikasi Variabel
a.  Variabel Independent: Budaya organisasi
b.  Variabel Dependent: Motivasi, Kepuasan Kerja, Kinerja.

Definsi operasional
a.  Budaya organisasi : adalah perekat sosial yang mengikat anggota organisasi
secara bersama-sama.
b.  Motivasi adalah: kekuatan atau dorongan yang menyebabkan orang berperilaku
dengan cara tertentu.    
c.  Kepuasan kerja adalah : tingkat perasaan individu baik secara positif atau negatif
aspek-aspek dalam pekerjaannya.
d.  Kinerja : adalah prestasi karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

Teknik Pengambilan Sampel
Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quota Sampling
karena sudah diketahui jumlah karyawan dari lima perusahaan pengolahan kayu
berskala menengah (Sesuai SK Dir BI, No.30/45/Kep/Dir/UK tgl.5 Januari 1997) 
dilima kota yaitu Surabaya, Gresik Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Sejumlah 382
orang karyawan pabrik yang dipakai sebagai obyek penelitian. Perusahaan yang
dimaksud adalah: 
1.  Surabaya : PT.Efrata Indah dengan sampel 69 orang
2.  Gresik: PT.Tulus Tritunggal dengan sampel 78 orang
3.  Sidoarjo: PT.Rimba Prima Nusantara dengan sampel 91 orang
4.  Mojokerto: PT.Wijaya Perkasa Indah dengan sampel 67 orang
5.  Pasuruan: PT.Hasil Alam Indo Indah dengan sampel 77 orang
Ferdinand (2002: 33) penggunaan sampel dalam SEM minimal 100 orang

Alat dan Metode Pengumpulan Data 
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dengan
menggunakan alat yaitu kuesioner yang telah disiapkan dimana responden dapat
memilih jawaban yang sesuai dengan persepsinya (pertanyaan tertutup). Pengukuran
data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah skala likert dengan ukuran sebagai
berikut: 1 = Sangat tidak setuju. 2 = Tidak setuju, 3 = Netral, 4 = Setuju, 5 = Sangat
setuju.

Teknik Analisis Data
Data dianalisis dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling)
program Analysis of Moment Structure (AMOS) Versi 5.0 (Ghozali : 2004) disertai
dengan uji kesesuaian model (Goodness of Fit) pada persamaan struktural.

Hasil Penelitian

1.  Uji Kenormalan Data
Untuk menunjukkan bahwa data berdistribusi normal atau tidak. Dapat dilihat
dari nilai C.R atau Z Value. Nilai C.R tersebut dibandingkan dengan nilai Z table
ά = 0.05 (± 1.96). Semua variabel yang ada ( Budaya organisasi, Motivasi,
Kepuasan kerja, Kinerja) memenuhi kenormalan karena Z value < Z
table.Sedangkan pengujian multivariate diperoleh Z = 1.005 < Z table, dapat
dikatakan bahwa data tersebut berdistribusi multivariate normal
2.  Uji Multivariate Outlier
Jarak mahalanobis berada pada rentang 30.814 dan 39.830, sementara
perhitungan Chi-Square table dengan α = (0.05) dengan derajat bebas 4 (jumlah
Koesmono, Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi variabel) adalah 40.11. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat data outlier secara multivariate karena semua nilai jarak Mahalanobis
lebih kecil dar χ² table.
3.  Uji Multikolinearitas
Determinant of sample covariance matrix = 78.775, nilai yang dihasilkan jauh
sekali dari nol, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam data yang ada tidak
terjadi kasus multikolinearitas atau singgularitas
4.  Hubungan Kausalitas antar Variabel
Melalui pengamatan terhadap nilai C.R yang identik dengan uji – t dalam regresi
dibandingkan dengan t table ± 1.96 menggambarkan semua koefisien signifikan
antara lain:

      Maximum Likelihood Estimate
Regression Weights  Estimate  S.E  C.R
Motivasi   BudOr gs 0.680 0.107 6.349
Kep Kerja    Bud Orgs  0.183  0.073  2.522
Kep Kerja    Motivasi  1.462  0.464  3.152
Kinerja   Motivasi 0.387 0.145 2.670
Kinerja   BudOrg s 0.506 0.208 2.433
Kinerja   KepKer ja 0.003 0.001 2.018

Setelah diketahui estimasi dari koefisien path analysis, maka dapat dibangun
sebuah model structural berdasarkan koefisien path dan juga berdasarkan
konstruk model teoritis.
Pengaruh Budaya organisasi terhadap Motivasi dan Kepuasan kerja serta Kinerja
dapat digambarkan alurnya sebagai berikut:


Model 1  : Motivasi              =  0.680 Budaya Organisasi
Model 2  : Kepuasan Kerja   =  0.183 Budaya Organisasi + 1.462 Motivasi
Model 3  : Kinerja            =   0.506  Budaya  Organisasi  +  0.387  Motivasi  +
0.003 Kepuasan kerja

PEMBAHASAN

Dari hubungan kausalitas nampak bahwa pengaruh yang terbesar adalah dari
motivasi terhadap kepuasan kerja yaitu 1.462 sedangkan urutan lainnya adalah
budaya organisasi terhadap motivasi sebesar 0.680 dan motivasi terhadap kinerja
sebesar 0.387, budaya organisasi terhadap kinerja sebesar 0,506 dan terhadap
kepuasan kerja sebesar 0.183 dan yang terakhir adalah kepuasan kerja terhadap
kinerja sebesar 0.003
Dari hasil ini nampak bahwa motivasi merupakan hal yang pokok dalam
mempengaruhi kepuasan kerja, pernyataan umum bahwa seseorang akan tercapai
kepuasan kerjanya  apabila motivasi yang ada dalam perusahaan sangat mendukung
sekali dapat diterima.

Direct Effect
  Budaya Orgs             Motivasi              
 KepKerja 
Motivasi 0.680  0.000  0.000  
Kepuasan Kerja  1.183                          1.462                    
 0.000
Kinerja   0.506  0.387  0.003

Indirect effect
  Budaya Orgs  Motivasi  Kep Kerja
Motivasi 0.000  0.000  0.000
Kepuasan Kerja  0.994  0.000  0.000
Kinerja 0.267  0.005  0.000

Pengaruh langsung yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut : terdapat efek
langsung dari variabel Budaya organisasi terhadap Motivasi sebesar 0.680, variable
Motivasi terhadap Kepuasan kerja sebesar1.462, Variabel Budaya organisasi
terhadap Kepuasan kerja sebesar 1.183, variabel Budaya Organisasi terhadap Kinerja
sebesar 0.506, sedangkan variabel Kepuasan kerja terhadap Kinerja sebesar 0.003.
Berkaitan dengan hasil pengaruh langsung tersebut ternyata variabel Motivasi
memiliki efek langsung yang paling besar, hal ini wajar sekali karena pada dasarnya
individu merasa kepuasan kerjanya dapat dirasakan apabila motivasi yang ada dapat
meningkatkan kegahiran kerja.
Pengaruh tidak langsung dapat dijelaskan sebagai berikut : terdapat pengaruh
tidak langsung dari variable Budaya organisasi terhadap variabel Kepuasan kerja
sebesar 0.994, begitupula terdapat pengaruh tidak langsung dari variabel Budaya
organisasi terhadap variabel Kinerja sebesar 0.267, sedangkan pengaruh tidak
langsung dari  variabel Motivasi terhadap variabel Kinerja sebesar 0.005.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa ada pengaruh tidak langsung dari
Budaya organisasi terhadap kinerja melalui variable antara yaitu Motivasi dan
Koesmono, Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi kepuasan kerja. Selain itu ada pengaruh tidak langsung dari variabel Budaya
organisasi terhadap kinerja melalui variabel antara yaitu Kepuasan kerja.
Evaluasi Criteria Goodness of Fit Indices
Tabel 3. Indices of Goodness of Fit
Kriteria  Nilai Kritis  Hasil Model  Evaluasi Model
χ² (Chi-square)  Diharapkan
kecil
339.476 (Kecil)  339.476 < χ² 0.05 ; 4 =360.580
Probability  ≥ 0.05  0.195  Baik
RMSE  ≤ 0.08  0.060 Baik
GFI  ≥ 0.90  0.973  Baik
AGFI  ≥ 0.90  0.968  Baik
CMIN/DF  ≤ 2.00  1.068  Baik
TLI  ≥ 0.95  0.988  Baik
CFI  ≥ 0.95  0.990  Baik

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa semua indek memenuhi kriteria sehingga
model yang ada dapat dikatakan memenuhi kesesuaian dengan data yang ada.
Dari hasil penelitian dan dari koefisien jalur yang ada maka dapat diuraikan hal-
hal sebagai berikut:
1.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap Motivasi secara positif
2.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap Kepuasan kerja secara positif
3.  Motivasi berpengaruh terhadap Kepuasan kerja secara positif
4.  Budaya organisasi berpengaruh terhadap Kinerja secara positif
5.  Motivasi berpengaruh terhadap Kinerja secara postif
6.  Kepuasan kerja berpengaruh terhadap Kinerja secara positif

Perusahaan di Indonesia belum banyak mengenal tentang budaya organisasi hal
ini diperjelas bahwa belum adanya pedoman perilaku yang baku dalam melaksanakan
segala aktivitas yang ada dalam perusahaan, tetapi yang ada hanya peraturan
tatatertib kerja yang merupakan bagian terkecil dari budaya organisasi.
Sering terjadi adanya unjuk rasa dalam menyelesaikan masalah ketenaga kerjaan
menggambarkan adanya perbedaan yang mendasar tentang keyakinan nilai-nilai yang
harus di laksanakan secara bersama tanpa merugikan kedua belah pihak. Budaya
organisasi sebagai perekat sosial perlu diciptakan dan dihayati serta dilaksankannya
nilai-nilai yang terkadung didalamnya demi kehidupan bersama dalam organisasi
(Marcoulides and Heck:1993; Kritner and Kinicki :1995 : 532).
Disamping itu terdapat pengaruh langsung yang paling kuat dalam variabel
tersebut yaitu Motivasi terhadap Kepuasan kerja sebesar 1.462 artinya persepsi
tentang motivasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap Kepuasan kerja
seseorang secara signifikan dapat diterima. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang sebelum memiliki motivasi akan didahului oleh motif yang ada pada dirinya. Pemenuhuhan terhadap kebutuhan motivasi tidak terelakkan bagi semua karyawan sebab apabila motivasi terpenuhi
dengan baik akan muncul kepuasan kerja dan pada giliran berikutnya akan
berdampak pada ketenangan kerjanya. Motivasi dapat berupa keuangan dan non
keuangan yang akan berdampak pada kepuasan kerja (Grund and Sliwka,2001). Hal
ini wajar karena seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup tidak akan terlepas
dengan kebutuhan intrinsik dan ektrinsik. Penelitian ini melanjutkan penelitian yang
dilakukan oleh Herpen et al. (2002); yang memberikan kesempatan pada pihak lain
untuk meneliti pengaruh motivasi kerja terhadap kepuasan kerja. Pada akhirnya
dalam penelitian ini, ditemukan bahwa faktor-faktor perilaku organisasi : Budaya
Organisasi, Motivasi dan Kepuasan kerja memang mempunyai pengaruh terhadap
Kinerja perusahaan.


KESIMPULAN

Berdasarkan analisis yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa
Budaya organisasi berpengaruh terhadap Motivasi dan Kepuasan kerja serta Kinerja
pada karyawan industri pengolahan kayu skala menengah di Jawa Timur dapat
diterima. Keempat variabel tersebut merupakan faktor-faktor dalam perilaku
organisasi yang harus mendapatkan perhatian khusus bagi semua pihak yang terkait
dengan proses produksi. Penelitian ini dapat memberikan informasi pada manajemen
dalam mengelola Sumber daya manusia, artinya bahwa mengelola Sumber daya
manusia tidak terlepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerjanya. Pada
prinsipnya tujuan mengelola Sumber daya manusia adalah untuk mencapai
kesejahteraan bersama antara perusahaan dan semua karyawan yang terlibat dengan
aktivitas perusahaan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada perusahaan yang
sejenis tetapi berskala besar dengan tujuan untuk mengetahui apakah Budaya
organisasi berpengaruh terhadap Motivasi dan Kepuasan kerja serta Kinerja
karyawan berlaku pula bagi perusahaan yang berskala besar. Hal ini perlu dilakukan
karena kemungkinan yang terjadi adalah adanya perbedaan pengaruh motivasi
terhadap Kepuasan kerja karyawan antara perusahaan skala menegah dan besar,
disamping itu apakah ada perbedaan kepuasan kerja dan kinerja antara perusahaan
skala menengah dan besar.


DAFTAR PUSTAKA

Beach, Lee Roy, 1993, Making The Right Decision Organiztional Culture, Vision
and Planning. United States of America : Prentice-Hall Inc.
Bliss, Wliam G., 1999, Why is Corporate Important?. Work force pp 8-9
Koesmono, Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi
Bucahanan, David; Huncznski, Andrzej, 1997, Organizational Behavior an
Introductory Text. Third Edition, Europe : Prentice Hall.
Cascio, Wayne F, 1995),Managing Human Resources: Productivity, Quality of
worklife, Profits. Fourth Edition. Singapore : McGraw Hill Inc.
Dole, Carol and Schroeder, Richard G., 2001, The Impact of Varios Factors on the
Personality, Job Satisfaction and Turn Over Intentions of Profesional
Accountants. Managerial Auditing Journal,  Vol. 16 No.4 pp 234-245
Ferdinand, Augusty, 2002, Structural Equation Modeling Dalam Penelitian
Manajemen. Semarang: BP UNDIP.
Gachter, Simon and Falk, Armin, 2000, Work Motivation, Institutions and
Performance, The Participants of the first Asian Conference on Eperimental
Business Research at the Hongkong University of Science and Tehnology,
Working Paper pp 1-18
Ghozali, Imam, 2004, Model Persamaan Struktural Konsep dan Aplikasi dengan
Program Amos Ver 5,0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Glaser, Susan R; Zamanou, Sonia and Hacker Kenneth, 1987, Measuring and
Interpreting Organizational Culture. Management Communication Quartely
Vol.1 No.2 pp 173-178.
Grund, Christian and Sliwka, Dirk, 2001, The Impact of Wage Increase on Job
Satisfaction-Empiorical Evidence and Theoritical Implications, IZA’S
Research Area Mobility and Flexibility of Labor Market, Bonn, Germany
pp.13-14.
Herpen, Marco; Praag, Mirjan and Cools, Kees, 2002, The Effects of Performance
Measurement and Compensation on Motivation and Emperical Study,
Conference of The Performance Measurement Association in Boston pp. 1-34
Hofstede, Geert, 1986, Culture’s Consequences, International Differences in Work –
Related Values. Sage Publication, Beverly Hills/London/New Delhi.
Hughes, Richard L. Ginnet, Robert C. Curply, Gordon J., 1999,  Leadership
Enhancing the Lessons of Experience, Printed in Singapore : Irwin McGraw-
Hill.
Igalens J. Roussell, 1999, A Study of The Relationship between Compensation
Package, Work Motivation and Job Satisfaction, Journal of Organizational
Behavior, No.20 pp 1003-1025.
Kartono, Kartini, 1994, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan dan industri,
Jakarta. PT.Raja Grafindo Persada.

Kinman, Gail and Kinman, Russell, 2001, The role of Motivation to Learn in
Management Education. Journal of Workplace Learning, Vol 3 No. 4 pp.
Kotter, Jhon P. and Heskett, James L., 1992, Corporate Culture and Performance,
New York: The Free Press, A Division of Mac Millan, Inc.
Kreitner, Robert, Kinicki, Angelo, 1995, Organizational Behavior, Third Edition,
Printed in The United State of America: Richard D. Irwin Inc.
Linz, Susan J., 2002, Job Satisfaction Among Russian Workers, William Davidson
Institute Working Paper, Reseacrh Feelow Wlliam Davidson Institute
University of Michigan pp. 8-15.
Locke E.A., 1983, The Nature and Causes of Job Satisfaction in Dunnette, M.D.
(Ed), Hand Book Of Industrial Psychology, New York : John Wiley & Sons.
Luthans, Fred, 1992, Organizational Behavior, Sixth Edition, Singapore: McGraw
Hill Book Co.
Mangkunegara, AA Anwar Prabu, 2001,  Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung PT.Remaja Rosdakarya.
Mc Kenna, Eugene and Beech, Nic, 1995, The Essence of Human Resaources
Management, Prentice Hall International (UK) Limited Printed and Bound in
Great Britain by Tj Press, Padstow, Cornwall.
Molenaar, Keith, 2002, Corpoarte Culture, a Study of Firm With Outstanding 
Consideration Safety . Prosesional Safety pp 18-27
Mondy R. Wayne and Noe, Robert M., 1996,  Human Resource Management,
Printed in The United States of America: Prentice Hall International, Inc.
Nasarudin, 2001, Job satisfaction and organizational commitment among the
Malaysian workforce. Proceeding of 5 th Asian Academic of Management
Conference Klantan Pahang pp. 270-276.
Robbins, Stephen P., 1996 Perilaku Organisasi, Konsep-Kontroversi-Aplikaso,
Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta, PT.Prenhalindo.
Robbins, Stephen P., 2001, Organizational Behavior, Upper Saddle River, New
Jersey Prentice- Hall Inc.
Soeprihantono, J., 1988,  Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dan Pengembangan
Karyawan. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta..
Testa, Mark R., 1999, Satisfaction with Organizational Vision, Job Satisfaction and
Service Efforts: an Empirical Invetigation. Leadership & Organization
Development  Journal. Vol 20 No.3 pp. 154-161.
Tjosvold, Dean; Chen, Yifeng and You Zi-Yo, 2003, Conflict Management for
Individual Problem Solving and Term Innovation in China. Working Paper
pp 2-44. Waldman, David A., 1994, The Contribution of Total Anality Management to
aTheory of Work performance, Academy of Management Review, Vol 19
No.3, pp 210-536.
Werther, William B Davis Keth, 1996,  Human Resaource and Personal
Management, Fifth Edition. Printed in The United States of America :
McGraw Hill, Inc.
Zadjuli, Suroso Imam, 2001, Peranan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan Dalam
Pengembangan Sumber Daya Manusia Serta Profesionalisasi di Era Global.
Kuliah Perdana Universitas Internasional Batam Tahun Akademik 2001/2002
di Kampus Universitas Internasional Batam.